Pages

IMG1513A IMG1517A 15012011058 15012011057 09012011103 03122010046

Senin, 10 Mei 2010

Arctonyx collaris


Arctonyx collaris (Pulusan/ Hog badger)

Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Animalia, Phylum: Chordata, Subphylum: Vertebrata, Class: Mammalia, Order: Carnivora, Suborder: Caniformia, Family: Mustelidae, Subfamily: Mustelinae, Genus: Arctonyx, Species: Arctonyx collaris


Status Konservasi
Tidak ada informasi status konservasi A. collaris, dimana hewan ini tidak tercatat pada IUCN maupun CITES
Penyebaran
Penyebaran Pulusan (Arctonyx collaris) di Asia Tenggara sangat luas, terutama di daerah tropis. Jenis ini tersebar dari Sikkim dan China di bagian utara sampai ke Thailand, kemudian menyebar ke arah barat, dan berbatasan dengan anakbenua India. Pulusan juga juga di dapati di Sumatra (Nowak, 1999; Ernest, 1977; Ernest, 1986; Jackson, 2001; Long et al., 1983). Hewan ini merupakan hewan liar di beberapa tempat di Asia tenggara termasuk di Indonesia dan pada beberapa daerah merupakan hewan endemik.
Hewan ini hidup pada daerah dengan ketinggian sampai dengan 3500 m. A. collaris lebih menyukai hidup di hutan dataran rendah, dan habitat penyebarannya meliputi seluruh Asia Tenggara, termasuk padang rumput dan daerah pertanian, sehingga bioma hewan ini meliputi hutan, hutan hujan tropis hingga pegunungan, selain itu juga daerah pe rtanian (agrikultur)
Keadaan Fisik
Berat badan antara 7 – 14 kg, rata-rata 10,5 kg , dengan panjang badan 55 - 70 cm, rata-rata 62,5 cm. Ukuran hewan mirip dengan Meles meles yang dikenal dengan Babi hutan Eurasia, yang mempunyai panjang tubuh 55 – 70 cm, dan mempunyai panjang ekor 12 – 17 cm, dengan berat bervariasi antara 7 – 14 kg.
Warna bulu kehijauan sampai abu-abu, meskipun bagian kaki dan perut berwarna hitam, dengan garis warna hitam dari hidung ke arah telinga, juga terdapat garis-garis lainnya dari mulut. Garis-garis berwarna hitam sangat kontras dengan warna bulu putih di daerah kepala. Seperti halnya Meles meles, maka warna belang pada bulunya, merupakan tanda bagi hewan lain (musuhnya) untuk tidak mengganggunya
Kukunya panjang, warna agak pucat, berbeda dengan Meles yang berwarna hitam gelap. Hewan ini seperti mempunyai moncong seperti babi peliharaan, yang mempunyai moncong tidak berbulu di ujungnya.

Reproduksi
Cara dan Perilaku reproduksi hewan ini belum diketahui dengan pasti (Ernest, 1977; Long et al., 1983; Ernest, 1986; Jackson, 2001).
Musim kawin berlangsung umumnya pada bulan Mei, dan kelahiran anaknya umumnya terjadi antara Februari hingga Maret. Banyaknya anak yang dilahirkan 2 – 4 ekor, rata-rata 3 ekor, dengan lama kebuntingan rata-rata 10 bulan. Rata-rata berat anak yang dilahirkan mencapai 58g, dan dapat disapih setelah umur 4 bulan. Hal ini sebagai indikasi untuk mengatur kebuntingan seperti halnya pada babi hutan Eurasia Meles meles (Nowak, 1999) dengan umur sapih anaknya juga sekitar 4 bulan (Nowak, 1999). Di penangkaran, anak babi hutan ini mencapai dewasa pada umur 7,5 bulan. Di Kebun Binatang Toronto Kanada, perkawinan terjadi pada bulan-bulan di musim semi dan musim panas, dan melahirkan anaknya pada bulan Februari berikutnya. Setelah itu istirahat tidak bunting, dan mulai bunting lagi setelah 6 minggu kemudian. Hal ini ada hubungannya dengan masa pembentukan embryo seperti pada M. meles yang berkisar antara 6-8 minggu. Babi hutan di Kebun Binatang Toronto tersebut dapat beranak setiap 2 tahun secara berturutan.(Nowak, 1999)

Masa Hidup (Lifespan):
Di penangkaran dalam keadaan ekstrim, dapat mencapai maksimum 14 tahun, walaupun demikian dipenangkaran rata-rata dapat mencapai umur maksimum 15,8 tahun, sedangkan menurut Jackson (2001) dan Nowak (1999) umur hewan ini dapat mencapai bulan13 tahun 11bulan. Sedangkan masa hidup hewan ini di alam tidak diketahui dengan pasti.

Perilaku
Perilaku hewan ini belum banyak diketahui, tetapi banyak yang berpendapat bahwa hewan ini merupakan hewan yang lucu/suka bermain, nocturnal, dan sebagian waktunya digunakan untuk bersembunyi di sarang atau goa tempat persembunyiannya. Di China bagian tengah, puncak aktifitas hewan ini antara jam 3 hingga jam 5 pagi, dan memulai aktifitasnya lagi antara jam 7 hingga jam 9 malam (Nowak, 1999). Perilaku hewan ini secara umum menyerupai M. meles. Meskipun babi hutan Eurasia ini suka berkelompok, yang ditandai dengan menggunakan sarang yang sama, tetapi A. collaris cenderung soliter, dan induknya berjalan dan berkumpul bersama anak-anaknya, serta mungkin mempunyai daerah kembara (home range) dengan sarang yang sama seperti halnya M. meles (Nowak, 1999). Hewan ini dilaporkan hibernasi dari bulan Nopember hingga Februari atau Maret (Nowak, 1999)
Komunikasi dan persepsi
Pola berkomunikasi A. collaris tidak tercatat, tetapi hewan ini mengandalkan indera penciuman sebagaimana suara dan gerakan tubuh untuk berkomunikasi.

Perilaku Makan
A.Collaris pemakan segala, termasuk cacing, invertebrata, buah-buahan dan akar/umbi-umbian. Tanaman dimakan dengan menggunakan indera penciuman. Hewan ini menggunakan moncong, gigi seri dan taringnya, serta kukunya untuk menggali akar/umbi seperti halnya babi peliharaan. Babi hutan ini memakan hewan-hewan kecil (seperti mamalia kecil) kalau keadaan memungkinkan. Meskipun demikian, babi hutan Eurasia, lebih menyukai cacing tanah sebagai makanannya. Nowak, 1999; Ernest, 1977; Ernest, 1986; Jackson, 2001; Long et al., 1983).
Predator
Sebagai predator hewan ini adalah harimau (Panthera tigris) dan macan tutul (Panthera pardus)
Hewan ini mempunyai cakar yang besar, kulit tipis dan fleksibel. Hal ini akan membantu untuk menghadapi predator. Warna bulunya yang bergaris-garis untuk menunjukkan kepada musuhnya bahwa dia merupakan hewan yang berbahaya dan sebagai tanda musuhnya untuk segera menyingkir (Nowak, 1999). Seperti halnya bangsa Mustelid lainnya, maka hewan ini juga menghasilkan kelenjar bau dari bagian anus, tetapi belum diketahui kegunaannya sebagai alat pertahanannya (Jackson, 2001)

Peranan dalam ekosistem
Belum banyak diketahui peranan A. collaris dalam ekosistem. Sebab pola kebiasaan makan hewan ini memegang peranan penting dalam pengaturan populasi invertebrata. Hewan ini menggali tanah, dan berperan dalam aerasi tanah. Keadaan ini akan meningkatkan jumlah hewan kecil yang ada pada lubang-lubang tersebut, dengan kata lain hewan ini membantu membuat habitat hewan-hewan kecil di dalam tanah.

Peranan dalam ekonomi
Aspek negatif dalam segi ekonomi secara langsung terhadap manumur belum diketahui, tetapi babi hutan Eurasia, dianggap sebagai pembawa TBC pada sapi (Nowak, 1999). Hal ini memungkinkan hewan ini sebagai pembawa penyakit pada ternak. Babi hutan Eurasia juga dapat menimbulkan kerugian yang besar karena merusak hasil pertanian, seperti halnya pada A. collaris. Sedangkan aspek ekonomi yang positif pada manumur belum diketahui.

Daftar Pustaka
Ernest, N. 1977. Badgers. London: Blandford Press Ltd..
Ernest, N. 1986. The Natural History of Badgers. New York: Facts on File Publications.
Jackson, S. 2001. "Steve Jackson's Badger Pages. The hog badger (Arctonyx collaris): Fact file--About the hog badger" (On-line). Accessed May 22, 2003 at http://www.badgers.org.uk/badgerpages/hog-badger-01.html.
Long, C., C. Killingley. 1983. The Badgers Of The World. Springfield, Illinois: Charles C Thomas.

Sabtu, 10 April 2010

Salam kenal melalui sains


Bagi anda sekalian yang menyenangi sains silahkan memberi komentar, saran atau bahkan kritikan. Saya harapkan blog ini sangat bermanfaat bagi semua pihak tidak terbatas tingkat pendidikannya. Semoga bermanfaat.

deden ismail